Tuesday, December 1, 2009

Dobel Plus Genre Mutakhir Perkutut Indonesia



Acauan dasar, suara perkutut dobel plus terangkai dari tujuh ketukan suara. Yakni, satu suara angkatan, lima ketukan suara tengah (ketek) dan satu ketukan suara ujung. Namun dalam perkembangannya, istilah dobel plus ini digunakan untuk menengarai perkutut yang berbunyi tujuh ketukan atau lebih.

Yang cukup menyulitkan, meski istilah dobel plus digunakan untuk menengarai perkutut yang berbunyi tujuh ketukan atau lebih, khusus untuk perkutut yang berbunyi delapan ketukan, istilah yang dipakai bukan lagi dobel plus tapi triple.

Gampangnya, perkutut dobel plus adalah perkutut yang mampu merangkai suara tujuh ketukan dan di atas delapan ketukan atau lebih. Khusus perkutut bersuara delapan ketukan, dinamai tripel. Yakni, satu ketukan suara angkatan, enam ketukan suara tengah (ketek) dan satu ketukan suara ujung.

Contoh, suara perkutut dobel plus : hur…ketek…ketek…ke …kung. Atau klaa…ke-tek…ketek…ke…kung. Atau juga waii…ketek…ketek…ke…kung.

Contoh suara perkutut tripel : hur…ketek…ketek…ketek…kung.Atau klaa…ke-tek…ke-tek…ketek…kung. Atau juga waii…ke-tek…ke-tek…ke-tek…kung. (Perhatikan, suara tengahnya. Perkutut berpola dasar suara triple memiliki enam ketukan suara tengah, atau tiga kali ketek).

Sedangkan jika perkutut itu berbunyi di atas delapan ketukan, penggemar lebih condong memberi istilah dobel plus.Misalnya, terhadap perkutut dengan suara sembilan atau sepuluh ketukan.

Barangkali komunitas di luar kongmania, bakal mengatakan, adalah mustahil, menjumpai perkutut dobel plus yang memiliki sembilan ketukan atau lebih. Tapi survei lapangan membuktikan, perkutut jawara tingkat nasional saat ini didominasi perkutut dobel plus.

Sebut misalnya, “Meteor Selancar”, “Aljazair”, “Mahkota Raja” atau juga “Mandi Laras”. Deretan nama perkutut papan atas Liga Perkutut Indonesia (LPI) itu, adalah perkuktut yang memiliki karakter bunyi dobel plus.

Bahkan, dalam perkembangannya, nama Meteor, Aljazair, Mahkota Raja dan Mandi Laras, belakangan justru dijadikan ikon perkutut dobel plus. “Basic blood”, peternak perkkutut nasional juga berkiblat ke sini. Maknanya, nama perkutut jawara itu, mampu membentuk genre baru blantika perkutut jawara nasional.

“Awalnya penggemar perkutut phobi, terhadap perkutut dobel plus. Perkutut dobel plus dianggap sirikan (pantangan,red), ” ujar Lamidi, ketua departemen penjurian P3SI Korwil Jatim. Penyulutnya, perkutut dobel plus biasanya hancur di suara ujung. Atau patah (perkutut yang tidak memiliki suara ujung -- insya Allah akan kami bahas pada edisi berikutnya,red). “Tapi sekarang perkutut dobel plus justru diburu kongmania,” lanjut pakar perkutut yang tinggal di Sidoarjo itu.

Seperti halnya perkutut dobel, kualitas suara tengah dobel plus atau tripel, harus jelas, bertekanan dan lengkap. Tidak “nrithik, jalan atau nyeret”. Istilah yang lebih tepat, harus terformat dengan intonasi suara yang “miji-miji dan lelah” (berintonasi stabil).

Bagaimana membedakan suara ketek “nrithik dan miji-miji”? Mudah banget. Coba ketukkan ujung jari Anda ke meja atau papan. Bentuk ketukan dengan intonasi senggang. Misal, tiap satu detik satu ketukan. Bunyi yang terbentuk dari ketukan ujung jari anda dengan intonasi stabil satu detik itu, boleh dikatakan sebagai ketukan yang “miji-miji”.

Sekarang, ketukkan ujung jari Anda ke meja atau papan. Intonasinya dibuat dua sampai tiga ketukan dalam satu detik. Bunyi yang dihasilkan ketukan ujung jari dengan intonasi dua sampai tiga ketikan dalam satu detik itu, bisa dikatakan nrithik atau nyeret.(bersambung) andi casiyem sudin